Minggu, 03 Januari 2010

Bebas

Pada sebuah acara pengajian (lebih tepat disebut workshop) dengan peserta undangan kurang lebih 30 orang dilakukan perkenalan terlebih dahulu. Tujuannya untuk mempermudah dan mempercepat peserta berinteraksi satu sama lain. Setiap peserta diminta untuk memperkenalkan dirinya, latar belakangnya, profesinya, atau apa saja yang ingin orang lain tahu mengenai dirinya. Tidak semuanya belum kenal sama sekali. Sebagian besar sudah saling kenal, cuman tidak semua tahu latar belakang masing-masing rekan secara persis. Ada yang menarik dari acara perkenalan tersebut. Dari perkenalan tersebut, ternyata sebagian besar yang hadir berprofesi sebagai wiraswasta/pengusaha, sementara yang karyawan justru tidak terlalu banyak

Lalu apa menariknya? Ternyata sebagian teman yang pengusaha/wiraswasta tersebut dulu juga karyawan, cuman karena ada keinginan dari mereka yang menurut saya hampir sama atau bahkan sama persis. Keinginan tersebut adalah keinginan untuk ”bebas”. Apa maksudnya ”bebas”? Apakah selama ini tidak ada kebebasan? Yang dimaksud bebas ternyata adalah kebebasan mengatur diri kita sendiri terutama dalam beribadah. Mereka berkeinginan untuk dapat menjalankan ibadah dengan sebaik-baiknya. Tanpa kendala dan halangan. Kendala dan halangan hanya ada pada diri mereka, tidak ada faktor lain. Sebaik-baiknya itu bagaimana? Salah satu yang jadi contoh sederhana adalah kebebasan dapat menjalankan sholat berjamaah di awal waktu di masjid.

Hal tersebut tidak sepenuhnya mereka dapatkan ketika menjadi karyawan. Kalau menjadi karyawan tentunya sebagian hidupnya diatur oleh aturan perusahaan. Masuk, istirahat, dan pulang ada ketentuannya. Keinginan untuk dapat sholat di awal waktu menjadi terbatas. Tidak semua perusahaan memberi kelonggaran karyawannya untuk sekedar ke masjid atau ke mushola terdekat pada waktu sholat Ashar misalnya. Dan tidak jarang malah di kantorpun tidak tersedia tempat sholat yang cukup layak untuk sholat berjamaah atau bahkan untuk sholat sendirian (munfarid).

Terus terang saya kagum dengan rekan-rekan peserta acara pengajian tersebut terhadap keinginan mereka untuk bebas dan berusaha mewujudkannya. Keyakinan yang dalam bahwa sesungguhnya hidup kita hanya untuk menyembah dan mengabdi pada Alloh SWT dan jangan sampai urusan dunia menganggu keinginan memberikan yang terbaik kepada Alloh SWT. Dengan keyakinan bahwa rezeki dari Alloh dan Alloh tidak akan menyia-nyiakan hambaNya dan menjamin rezeki, mereka memutuskan berhenti menjadi karyawan dan berwirausaha. Dengan menjadi bos atas usaha mereka dan diri mereka sendiri tentunya lebih mudah bagi mereka untuk ”bebas” tinggal bagaimana menjaga semangat dan keyakinan yang mendorong yang melandasi keinginan menjadi ”bebas” tersebut. Kendala dan halangan hanya ada pada diri sendiri.

Saya kenal dengan baik beberapa teman tersebut. Sepanjang pengetahuan saya memang mereka sangat istiqomah. Kesibukan apapun ketika menjelang waktu sholat tiba, mereka segera berhenti dan mencari masjid/mushola terdekat. Mereka selalu berusaha mendahulukan Alloh di atas semua urusan. Terus terang saya banyak belajar dari mereka untuk masalah tersebut.
Lalu bagaimana dengan dengan rezeki dan penghidupan mereka setelah tidak menjadi karyawan? Saya hanya bisa berkata bahwa Alloh benar-benar menjamin rezeki setiap hambaNya... Subhanalloh...

4 komentar: